perungu - pikiran yang matang

Pikiran yang Matang - Perunggu, Lagu Kecil Tentang Menjadi Manusia di Tengah Bising Dunia

Apa jadinya jika kita membiarkan diri diam di tengah dunia yang terus berbicara?

Lagu Pikiran yang Matang dari Perunggu adalah upaya itu: sebuah momen untuk diam. Di tengah segala kejar-kejaran dengan waktu, notifikasi, dan opini, lagu ini seperti mengajak kita untuk menepi sejenak, dan menengok isi kepala—bukan untuk diisi lagi, melainkan untuk dibereskan.

Lagu ini bukan sekadar musik, melainkan semacam kesaksian sunyi tentang menjadi manusia modern yang kewalahan. Ia tidak mencoba menjadi himne perlawanan, tidak juga mengklaim kebenaran apa pun. Tapi di situlah justru kekuatannya: ia manusiawi. Ia ragu, ia lelah, ia berpikir, lalu akhirnya berani untuk memilih yang sederhana—diam.

Dan, kadang, diam adalah bentuk kematangan paling jernih.

Kita Tak Pernah Benar-Benar Hening

Kita hidup di zaman yang mengaburkan batas antara kebisingan luar dan dalam. Scroll yang kita anggap santai bisa menyita jam-jam berharga. Komentar yang seolah sepele bisa mengendap sebagai luka. Tak terasa, kita kehilangan kendali atas atensi.

Itulah dunia yang dikritisi secara halus oleh Perunggu dalam lagu ini. Terinspirasi dari pengalaman detoks media sosial, mereka menciptakan lagu yang tak berambisi mengajari—melainkan berbagi pengalaman menyadari. Saat lagu ini diputar, pendengarnya tidak disuruh berubah. Hanya diajak menyadari bahwa selama ini, mungkin, kita sedang terlalu banyak menerima, dan terlalu sedikit memilah.

“Hei, kau pernah sita semua waktuku,
dan tak kembalikan satu pun…”

Baris itu terdengar seperti keluhan kepada seseorang. Tapi semakin didengar, terasa seperti percakapan dengan diri sendiri—atau mungkin dengan “dunia” yang terus mengetuk dan meminta perhatian kita tanpa henti.

Baca Juga : Roman Ketiga – White Shoes & The Couples Company: Cinta yang Meninabobokan Sekaligus Menyesakkan

Musik yang Tidak Menuntun, Tapi Menemani

Perunggu tidak berusaha menyusun aransemen yang mencolok. Mereka tidak menjejali lagu ini dengan dentuman atau solo gitar panjang. Mereka memilih jalan sebaliknya: suara yang tertahan, denting yang pelan, dan lirik yang jujur.

Dan mungkin, justru karena itulah lagu ini terasa seperti teman. Seorang teman yang datang bukan dengan solusi, tapi dengan pelukan yang mengatakan: aku tahu rasanya bingung dan tetap harus berjalan.

Jika banyak lagu mencoba menjadi jawaban, Pikiran yang Matang dengan jujur mengakui bahwa ia pun masih bertanya.

Kedewasaan Tak Datang Bersama Umur, Tapi dengan Keberanian untuk Menepi

Dalam masyarakat yang mengukur kematangan dengan keputusan cepat dan sikap tegas, lagu ini menjadi anti-tesis. Ia berkata bahwa tidak apa-apa tidak tahu. Tidak apa-apa menunda. Tidak apa-apa memilih sunyi ketimbang terlibat dalam hiruk pikuk yang tak memberi makna.

“Di laut yang tenang, dan pikiran yang matang…”

Tenang dan matang bukan kondisi yang datang begitu saja. Ia hasil dari proses panjang, dari keberanian untuk menjauh dari hal-hal yang mengganggu. Dari keputusan sadar untuk merawat isi kepala.

Lagu Ini Seperti Film Diam yang Tak Diputar di Bioskop

Ada irisan indah antara lagu ini dan dunia sinema. Ia seperti sebuah film pendek dengan dialog sedikit, latar rumah biasa, sorot cahaya pagi dari jendela yang berdebu. Sebuah montase tentang manusia yang duduk di ruang tamu, mengaduk teh yang sudah dingin, lalu menatap jam dinding tanpa maksud.

Dan seperti film-film yang tidak ramai ditonton, justru di dalam kesunyiannya itulah ia menyentuh. Lagu ini bukan produk industri, melainkan karya jiwa. Ia tidak dirancang untuk viral, tapi untuk mengingatkan bahwa kita punya kewenangan atas pikiran sendiri.

Kita Butuh Lagu Seperti Ini, Karena Kita Terlalu Lama Membisu dalam Bising

Dunia hari ini tidak kejam, tapi cepat. Dan kecepatan adalah bentuk lain dari kekerasan yang tak terlihat. Lagu Pikiran yang Matang hadir bukan untuk melawan dunia, tapi untuk menegaskan bahwa kita masih bisa memilih cara kita sendiri dalam menjalaninya.

Kita masih bisa memilih diam. Memilih mendengarkan. Memilih mundur. Bukan untuk menyerah, tapi untuk memulihkan.

Penutup: Saat Musik Tidak Lagi Menghibur, Tapi Mengingatkan

Perunggu, melalui Pikiran yang Matang, memberi kita ruang. Ruang yang mungkin tidak kita sadari kita butuhkan. Ruang untuk menyadari, untuk merasa tanpa dipaksa mengungkap, dan untuk memahami bahwa menjadi matang bukan berarti tahu semuanya—tetapi tahu kapan harus cukup.

Lagu ini bukan untuk semua orang. Tapi bagi mereka yang sedang mempertanyakan arah, sedang lelah mencintai dunia yang tak diam, atau sedang belajar menyayangi diri sendiri—lagu ini bisa jadi tempat singgah yang tepat.

Post Views: 699